Aku lulus dari Akademi Sekretaris sebuah perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah akhir tahun 2002 lalu. Walaupun hanya mengantongi nilai rata2, tapi dengan skill yang kudapat selama bangku kuliah, pengalaman berorganisasi, penampilan yang cukup menarik, dan kemampuan adaptasi yang cepat, membuatku tidak mengalami kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan.
Sejak semester akhir perkuliahan, aku berpacaran dengan seseorang yang saat ini telah menjadi suamiku. Sejak pertama aku mengenalnya dia memang seorang pengangguran, dan alhamdulillah, setelah lulus, aku diterima bekerja di sebuah bank swasta dengan penghasilan yang sangat memadai, hingga aku bisa membantunya untuk membangun sebuah bisnis kecil2an. Sepulang kantor, aku selalu membantu kekasihku dalam hal manajemen. Maklumlah, dia tidak melanjutkan studinya yang sudah memasuki semester ke 3 kuliah. Dan alhamdulillah, usaha kami ini mulai maju hingga kami bisa menggaji beberapa orang karyawan.
Tapi sayang, pekerjaanku sebagai sekretaris, tidak pernah didukung oleh kekasihku ini, dia selalu cemburu pada atasanku. Wajarlah rasanya kalau sebagai seorang staff aku harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaanku, tapi rupanya lain yang ada dalam pikiran kekasihku, dia selalu menuduhku berselingkuh, walaupun dia sendiri yang menjemputku sepulang kantor. Hal ini terus saja terjadi hingga dalam kurun 2 tahun saja, aku sudah berpindah 5 tempat kerja, hanya karena tidak mau ribut dengan kekasihku. Hingga suatu saat, aku putuskan untuk berhenti bekerja dan berkonsentrasi untuk membantunya mengembangkan usaha kecil yang kami miliki. Tapi kami memerlukan modal yang tidak kecil, hingga kami nekad menggunakan kredit dari bank dalam jumlah yang cukup besar.
Sebenarnya, aku membantu kekasihku ini tanpa sepengetahuan orang tuaku, mereka tidak setuju aku berhubungan dengannya karena dia seorang pengangguran. Tapi, dunia perekonomian memang sedang pasang-surut…kamipun sempat mengalami pailit, yang akhirnya harus memberhentikan satu demi satu pekerja kami dan memberinya pesangon. Dan kembali ke awal kami menjalankan bisnis ini hanya berdua. Ketika itu kami sudah menjadi distributor snack yang lumayan besar. Tentu saja, keuntungan tidak bisa kami nikmati 100% karena kami harus membayar cicilan ke bank. Dan seiring dengan menurunnya usaha kami, maka kamipun bekerja ekstra keras agar tidak sampai menunggak cicilan bank.
Tapi usaha kami tidak cukup, sejak pailit, kami mulai menjual aset2 kami untuk membayar hutang, hingga pada akhirnya kuputuskan untuk kembali bekerja.
Aku diterima disebuah perusahaan swasta yang cukup besar, dengan posisi sebagai sekretaris General Manager. Dengan demikian, dapat dibayangkan betapa banyaknya beban kerja yang harus kuselesaikan dalam satu hari, dan akupun harus lembur supaya tidak menumpuk di keesokan harinya. Dan untuk kesekian kalinya, kekasihku ini selalu marah2 dan kali ini, dia juga mulai main tangan.
2 tahun berlalu dengan dilema yang kualami antara karier atau rumah tangga. Aku tidak pernah merasakan tenang ketika bekerja karena selalu dihinggapi perasaan kawatir dan ketakutan, krn aku tahu, aku akan dihajar jika aku lembur. 2 tahun bekerja, aku tidak pernah merasa nyaman. Tapi aku harus terus bekerja, karena penghasilanku bisa untuk membantu melunasi pinjaman di bank.
Akhirnya, akhir tahun 2007 lalu kami menikah.Alhamdulillah aku bersama suamiku sudah mulai bangkit. Kami sudah memiliki toko dengan omset penjualan yang lumayan
. Tapi suamiku ingin agar aku tetap bekerja…ya maklumlah, kami trauma dengan masa pailit kami.
Sayangnya, hingga sekarangpun suamiku masih selalu marah jika aku sedikit saja terlambat pulang kantor.
Aku bingung, aku ingin berhenti bekerja, supaya tidak ada lagi masalah dalam rumah tanggaku hanya karena persoalan cemburu. Aku sangat mencintai suamiku, tapi sulit rasanya membuat dia mengerti. Dan disisi lain, suamiku juga tidak mengijinkan aku untuk berhenti bekerja. Aku lelah hidup seperti ini, tidak pernah mendapat support dan dukungan mental dari suamiku, tapi untuk berhentipun dia tidak setuju. Setiap hari, aku selalu bekerja dengan perasaan gelisah.
Akan sampai kapan dilema ini kujalani???
damn,.. membuat saya merinding membaca tulisan ini jaman kaya gini masih ada wanita seperti mba!,.
dasar itu suaminya tidak tau diuntung! tidak bersukur dasar uhhh,. ehh maap ko jd saya yg protes
Akan sampai kapan dilema ini kujalani??? ga tau heee
10 September 2008 @ 10:37wah,… sulitnya. ternyata ada kisah nyata seperti di sinetron. Komitmen dan Komunikasi ujung tombak keharmonisan rumah tangga. (sok tau ye,…)
10 September 2008 @ 10:45setiap orang punya rasa cemburu……..tapi yang lebih penting adalah saling percaya aja dech….
10 September 2008 @ 10:46buangkan suamimu, cerai dengannya.dia tak layak untuk jadi suami kamu
10 September 2008 @ 10:46akal dan hati soeami loe gak njamboeng kajaknja, sorry goea ngomong bletak adja.
10 September 2008 @ 10:56mendingan wirswasta aja trusin..daripada kerja….klo namanya pailit wajarlah dalam usaha….yach…biar ga ribut trus…dan kita harus yakin akan pemberian tuhan..
10 September 2008 @ 10:58Ada satu sisi yg tdk di ungkap disini yaitu.anak dan kehidupan beragama anda. Jikalo py anak ada semangat baru dlm menciptakan suasana harmonis kdg si anak yg jadi penyejuk. dan kalo anda beragama islam rajin2 lah sholat malam minta petunjuk jalan keuar dr semua kegelisahan ini..karena Allah tdk akan membebani hambaNya melebihi kadar.Ingat semua adalah ujian mintalah peunjukNyat
10 September 2008 @ 10:59Duhhh….kasian banget ya mbak…klo aq mending nda nikah aja ma tuch cowok….pasti masi banyak cowok di luar sana yg bisa ngertiin mbak….tapi udh terlanjur dan sekarang dia udh jd suami…
10 September 2008 @ 11:05hhmmm…gimana dong…klo aq sihh bakal hajarrr dia balik sampe dia ngerti posisi ku….
susahh juga yahhhh…
Musti ada pengertian dari suami, paling tidak saling percaya. Disisi lain, dia minta kamu kerja tapi kok gak percaya… maunya gimanah? minta pengertian sedikit lah!
10 September 2008 @ 11:05Cemburunya jangan berlebihan, nanti malah jadi benerankan?
Saya sbg wanita lebih baik terus bekerja
10 September 2008 @ 11:11Sepertinya tabiat suami Mbak memang seperti itu pencemburu berat. Sebenarnya dia mensupport Mbak untuk bekerja, hanya saja sifat cemburunya terlalu berlebih-lebihan sehingga kadang hilang akal sehatnya. Mungkin solusinya mencar pekerjaan yang bukan sebagai sekretaris, seperti staff biasa misalnya. Semoga diberikan ketabahan yach.. Mbak
10 September 2008 @ 11:15Tidak ada yang mustahil di Dunia, semau mimpi & harapan anda akan jadi kenyataan jika anda yakin, semua bisa berubah, karena dunia ini berubah dan bergerak, kalau diam kiamat kali ya…
Apa yang dan pikir dan rasakan, pasti akan jadi kenyataan, oleh sebab itu berfikirlah positif dan rasakan ketenangan dan kenyamanan dalam diri anda walau dalam situasi apapun, rileks & santai dalam menghadapinya….
Bilang juga ke suami anda, tidak baik selalu berburuk sangka, karena itu bisa jadi kenyataan suatu saat nanti, karena dia berfikir seperti itu….
Saya doakan semoga ada jalan keluar yang terbaik bagi keluarga anda….
10 September 2008 @ 11:20kita sebagai wanita jangan mau di jadiin budak,sama laki2 yang gak tau diri,kalau saya seperi anda saya pasti udah lari dari kehidupan dia,anda orang yang berpendidikan dan berkarir,saya yakin masih banyak laki2 yang bagus dari suami anda,percuma saja anda berkorban sampai sekarang…apa yang anda dapat dari semua ini hanya sakit hati yang anada dapat…laki2 macam ini gak pantas di hormati…coba lah kamu berpikir seribu kali kalau mau melangkah…sebelum kamu mempunyai anak dari dia….walau cinta suami kalau kelakuan dia kurang ajar yah apa boleh buat…
10 September 2008 @ 11:22Sy pikir perlu ada orang ketiga (mungkin temen penjenengan/temen suami penjenengan yg diyakini bisa diajak discuss ber-3) untuk menjadi mediator untuk menyikapi masalah yg timbul.
Salam
10 September 2008 @ 11:28dilematis emang mba’, tapi saran saya sama dengan suami mba’, jangan pernah ada pikiran untuk berhenti bekerja dari tempat sa’at ini, kalo mau bisnis dengan pinjaman dari bank maka teteplah bertahan untuk bekerja sebagai pegawai walaupun hati tersiksa, minimal sampai usaha ( bisnin ) mapan, bagaimanapun lihatlah pengalam yang sudah mba’ jalani di belakang hari. kalo masalah pulang telat dikit sebaiknya mba’ informasikan ke suami dan mintalah suami untuk jemput supaya suami juga mengetahui yang sebenarnya, demikian saja, semoga tetap sabar.
10 September 2008 @ 11:46Kasihan juga membaca cerita sinetron ini
10 September 2008 @ 11:53berarti ada salah dalam memilih suami ( suami modal dengkul ),mudah-2 an ada hal yang berubah dalam diri suami anda sehingga bisa menjadikan kehidupan rumah tangga anda berubah dan harmonis
Kalau dirasa suami mba bisa mencukupi mba sekeluarga, kenapa tidak untuk memilih berhenti kerja? Uang dan karir bisa dicari tapi suami yang tanggung jawab dan baik dan kita cintai sulit untuk cari penggantinya.
10 September 2008 @ 11:55Wah-wah hari gini kok ya masih ada aja penjajahan terhadap wanita ya, tipe suami mba itu tipe orang yang gak PD jadinya selalu cemburu.
10 September 2008 @ 11:58kalo menurut saya sih tetep harus kerja, untuk antisipasi aja,,,kita ngga akan pernah tau kedepan kehidupan rumah tangga kita gimana,,,jangan sampe menyesal aja.
tetep berdoa mba,,, cari penyelesaian yang baik, bicarakan dengan suami dengan baik baik.
Anda harus punya planning. Coba dalam tempo setahun ini dengan penghasilan anda bekerja untuk sedikit berinvestasi secara pribadi (di luar usaha yang dikelola suami). Cari investasi yang tidak memakan waktu, bisa berupa deposito atau forex atau yang lainnya. Juga setahun ini coba anda banyak belajar ilmu-ilmu investasi atau wirausaha melalui internet. Di tempat anda bekerja pasti anda bisa online secara gratis.
Setelah anda merasa yakin dalam setahun ini, baru anda keluar dari pekerjaan anda (tentunya anda harus punya planning untuk usaha apa setelah keluar, karena pada periode ini biasanya ada gejala posh power sindrome, sehingga anda tidak kaget dari aktive menjadi passive).
Dengan begini anda menyiapkan diri terulangnya kejadian pailit.
Apapun ceritanya rumah tangga anda lebih penting dari segalanya. Hanya itu saran dari saya.
10 September 2008 @ 12:03Wah rumit bgt masalahnya…smua berpulang pada anda sndri. Pengen di bawa ke mana hidup anda. Jika ingin kerja & rumah tangga berjaan beriringan sesuai harapan anda. Maka hal pertama anda harus berjuang keras agr suami anda mampu mengendalikan rasa cemburunya & membuang ketakutan2 yg tdk seharusnya pada anda. Jika suami anda tidak berubah & mengerti anda maka ada baiknya anda berpikir tuk mengakhiri hubungan
10 September 2008 @ 12:04Mungkinkah cemburu itu justru untuk menunjukkan betapa sayangnya suami anda kepada anda? Walaupun justru menimbulkan perasaan yang tidak enak pada anda. Tapi ketahuilah bahwa jika perasaan cemburu masih ada maka cinta itu masih ada. Silahkan komunikasikan perasaan anda dengan jujur kepada suami anda… tapi hargailah perasaan cemburu suami anda…
10 September 2008 @ 12:06Seharusnya suami mba sudah cukup dewasa untuk bisa berpikiran positif. Jika dia mengijinkan mba bekerja berarti dia harus bisa memberi kepercayaan penuh untuk mba menjalankan segala aktivitas berkaitan dengan pekerjaan yang mba jalani. Yah, saya setuju dengan pendapat Must S@S bahwa mungkin diperlukan pihak ketiga yang disegani dan dipercayai oleh suami mba sehingga nasihat beliau dapat didengar dan direnungkan oleh suami mba.
10 September 2008 @ 12:07Salam…
ayo..kita bangun Indonesia..Muali dari diri sendiri, mulai dari yang sederhana, mulai sekarang…
khan tidak harus dengan berkaja..tetep bisa usaha..
10 September 2008 @ 12:10bergabunglah bersama kami..
Coba di bicarakan sekali lagi dengan suami masalah yang kamu hadapi + plus orang ketiga yang dekat dgn dia (orang tua), masih tetap tidak berubah ya kamu harus berhenti, biar bagaimanapun suami yang tanggung jawab keluarga bukan kamu.Rezeki ditangan tuhan, kita hanya berusaha.
10 September 2008 @ 12:18Kalau saya ada diposisi mbak, udah lama juga thu mabur dari dia. Cari cwok yang super pengertian,
10 September 2008 @ 12:27Dua dilema. hanya kalo bisa keduanya seimbang. Ibu Rumah Tangga Yes!, karir uga Yes!
10 September 2008 @ 12:46cemburu sekali2 gak apa-apa.. tapi kalo selalu cemburu?? kalo saya sih, lepasin aja dari sejak pacaran. emang enak dicemburuin terus??? cemburu macam itu sih bukan karena cinta, tapi tanda tak mampu, tak pede, tak berdaya… tapi gimana lagi, kalo udah cinta banget mah, makan aja segala konsekwensinya, jangan ngeluh lagi, kan udah tau dari dulu2…
10 September 2008 @ 12:51kalau rasa percaya sudah tidak ada mau digimanakan lagi???
10 September 2008 @ 12:51Menurut saya suami mbak yang egois karena dia mau merelakan mbak kerja tapi tidak bisa merelakan perasaannya untuk pengertian mengenai situasi kerja mbak….
10 September 2008 @ 13:04salut dengan cinta anda pada suami yang mbelgedest kayak gitu.
mungkin bisa nego dengan suami, bagaimana jika suami saja yang bekerja sedangkan Anda yang fokus di usaha.
biar dia tahu juga bagaimana capek dan susahnya sebagai pekerja.
coba juga membicarakan masalah ini bersama keluarga besar, biar ada yg jadi penengah !
10 September 2008 @ 14:03Wahhhhhh, knapa nikah ma tu cwo mbk, Suami mbk tu ga blh egois, secara mbk banting tulang juga demi kluarga khan. Seharusnya dia nyadar donk, posisi sebagai suami,,,, aduhhhh greget nih penjajahan wanita,,,,
10 September 2008 @ 14:07Waah..
Istri yanga baik hati..
Alangkah bahagianya suami anda, mendapatkan istri seperti anda..
Opini saya..
Anda sangat mencintai suami anda(entah karna fisik, atw sifatnya) sehingga tetap memilih dia sebagai suami walaupun sikapnya yang cemburuan..
Anda dikaruniai “modal” yang bagus sehingga mudah mendapatkan pekerjaan, sehingga bisa menjadi penyangga keluarga.
Jika anda dihadapkan pada situasi:
Karir, atau rumah tangga??
Saya tidak melihat ada pilihan diantara dua itu..
Terlihat bahwa anda harus berkarir demi keluarga. Demi menopang keluarga. Dalam kasus anda, bekerja atau berkarir bukanlah suatu pilihan. Itu adalah keharusan.
Sobat..
Mantapkan hati.. Terus berkarir.. Bicarakan pada suami bahwa pekerjaan ini bukanlah pilihan yang untuk diri anda. Ini adalah suatu kewajiban demi rumah tangga, demi suami anda. Tinggal memilih waktu yang tepat untuk membicarakannya..
Kapankah itu??
Waktu paling tepat adalah saat sang suami tidak bisa berkata tidak. Saat semua suami menuruti apa permintaan istrinya. Saat suami tidak membutuhkan apa pun selain istrinya. Saat olah raga kasur..
10 September 2008 @ 14:16sepertinya kamu terlalu takut dengan suami jadi persoalan ini dibiarkan berlarut2, sebagai perempuan dan istri kita juga punya hak untuk bicara dan bersikap.
10 September 2008 @ 14:33kembali kepada kamu sendiri, kalo gak kuat menjalani ya berhenti kerja dengan konsekuensi masih banyak hutang dan usaha belum mapan, atau tetap kerja dan disakiti.
tapi, kalo gw liat nih sepertinya suatu saat apabila ada masalah dia akan main tangan lagi even bukan karena ada orang ketiga.
percayalah padaku…
menurut aku coba diajak bicara dari hati kehati sebenarnya suami mbak maunya bagaimana.
10 September 2008 @ 14:38cemburu seperti itu mungkin karena pernah terjadi mbak berselingkuh yang akhirnya diketahui oleh suami…
tetapi seharusnya dengan menerima menjadi istri, sudah sepatutnya suami kembali memberikan kepercayaan itu kepada mbak…
saran saya, jangan pernah berhenti bekerja… cinta mbak itu akan bertahan pada saat tidak ada pengganti atau tidak ada kejadian yang membuat sadar (bahwa kelakuan suami sudah melebihi ambang batas)…
kalo sampe kesadaran muncul pada saat mbak menganggur, akan lebih merepotkan tohh…
mudah2an kesadaran tidak berujung di perceraian namun berujung pada kebahagian… amien…
10 September 2008 @ 14:38perlu dikomunikasikan lebih intens mbak dengan suami. ketimbang terus menjadi dilema yang akhirnya bikin mbak ga nyaman kerja..
10 September 2008 @ 14:53Kapankah itu….?
Yah….saat para suami - suami takut istri…..
10 September 2008 @ 15:05walah mba..
10 September 2008 @ 15:32suamimu ini kok ya aneh bukannya bersyukur punya isteri yg sdh bnyk membantu dr semenjak pacaran…
manusia yg aneh…
sabar ya mba..krna kesabaran itu gak ada batasnya,
coba mba baca buku menjadi suami isteri bijak (Rasya’AbdusSami’)
bagus bgt mba bukunya
semoga Allah selalu melindungi mba & keluarga..amien
gambreng ajah tuh suami ky gt ..
10 September 2008 @ 15:37mau enakna ajah, knp ga bs kasi kepercayaan kpd istrina ..
sabar d, kl udh ga tahan biarin ajah ..
biarin dia mikir ada ga yg ky gt lg ?
anehh ..
kLo MeNUrUT aQu SuaMI mBA iTU hArus BeNeR2 dI KASih PngertiaN YAng Ekstra BANget, kaRNA kLO sEKAli sAja MBa BuaT dY KeCEwA mAka sUami MbA sELAmaNya TIDak aKN pERcaya Den9An mBa, JAdI KAsilaH KePeRcAYAAN yaNG AKan MEmbUAt sUAMI mBA pErcaYA dENGAn mBA, Tpi Jika Cra Itu TIdaK bIsa Ju9a munGkiN SuAm MbA YAng HArus MenGerTi MBA yaNG sEbagai IStRI Ju9A punYA haK UNtuk BeRBicAra BAhwa Apa yaNG SuaMI Mba PeRKIRakaN AdALAh tIDAk bNAr daN TunjuAKn baHWA mBA sANGAt MEnyaYAngi Suami MbA Den9an tULus…
10 September 2008 @ 15:38karier ato rumah tangga ??
kalo saya mending selesaikan dulu urusan rumah tangganya, jalin komunikasi, kasih pengertian dan saling menjaga kepercayaan. Rumah tangga berantakan bisa jadi karier ikut jadi berantakan. Jalani pekerjaannya dulu seperti biasa, sambil usaha mencari pekerjaan yang tidak sampai menimbulkan masalah dalam rumah tangga mbak….!!
salam tegar !!
10 September 2008 @ 16:46gila!!!!…org yg aneh…trus maunya th apa y mbak????
ampe kpn mbak bs nahan…wadoh gk tw deh mbak!!!
cm bs blg BE PATIENT
10 September 2008 @ 16:54Mba, kok bisa seh nikah ma orang kaya gitu…
10 September 2008 @ 18:21Dari awal kan dah tau dia kaya gmn???…
Sekarang lebih baik cuekin aza….
Mba harus kerja tuk nutupin kebutuhan.
Klo dia cemburu n maen tangan,laporin aja ke yang berwajib.
Saya bangga Anda bisa memilih yang terbaik buat Hidup Anda
Pilihan Apapun yang Anda buat adalah pasti yang terbaik.
http://usahapintar-privateinsuranceagent.blogspot.com/
10 September 2008 @ 19:29Wew..
10 September 2008 @ 20:15Memang isteri harus patuh pada suami..
Tapi pada suami yang bisa dipanuti..
Bukan suami yang ditakuti..
Perceraian sendiri juga perbuatan halal yang kurang disukai Tuhan..
So, gimana donk..
First; coba cari mediator..
Bisa sahabat dari anda dan suami anda..
Bisa juga keluarga kedua belah pihak..
Atau juru agama yang disegani..
Kalian bisa berbicara secara terbuka..
Kalau suami anda masih seperti itu..
Second; coba berdoa dengan kesungguhan..
Yang sesungguh-sungguhnya pada Tuhan, mintalah..
..
Kalau masih seperti itu bagaimana..
..
Saya tak berani menyarankan anda untuk bercerai..
Tapi, ingatlah anda itu sosok perempuan hebat..
Bisa mandiri dan kuat menahan hingga saat ini..
Ada saatnya suami anda harus bisa menyadari keberadaan anda..
Isteri bukanlah barang pribadi dari suami..
Isteri adalah belahan jiwa..
Setara dan sejiwa..
Kekasih tak kan pernah tega untuk berbuat kasar..
Kekasih selalu mensupport dan menjaga..
Cemburu bukan alasan untuk menyiksa orang tercinta..
..
..
Demi Tuhan yang menciptakan Adam dan Hawa..
Semoga anda bisa segera berbahagia dalam hidup ini..
With or without your husband..
..
God bless U..
..
http://budihermanto.blogdetik.com
berjuang saja mbak, Tuhan akan memberikan pilihan yang terbaik!
10 September 2008 @ 20:32harus ada saling percaya, dikala usah n senang selalu mendampingi suami
10 September 2008 @ 20:33iya nih.. suaminya jangan mau enaknya sendiri dong.. malah istri yang cari duit buat modal usaha..
hhhmm..
10 September 2008 @ 20:35toleransi sedikit bisa ngga yah..???
Maaf ya mBak
Yang perlu konsekuen itu disamping suami juga mBak nya sendiri.
Dimana letak perlu koneskuennya? Disitu jelas mBak nya sudah mengambil keputusan, maka segala resiko harus mBak selesaikan.
Keputusan yang mana? Yaitu tadi keputusan mBak menikah dengan sang Suami yang sekarang.
Jika mBak sejak awal sudah menemui masalah bahkan sampai mendapat perlakuan (maaf) fisik (main tangan) toh mBak pada akhirnya MEMUTUSKAN untuk menikah.
Jika akan mengambil keputusan lain ATAU masih punya keluhan seperti yang sekarang, kenapa tidak mBak nya TEGAS in keputusannya sebelum terjadi pernikahan, toh sudah ada masalah waktu itu? Entah kalau saya salah membaca urutan cerita nya si mBak.
Dalam posisi ini bergaining mBak lebih diatas sang suami dan jika mBak ber-sikap TEGAS saya yakin mBak dalam posisi 80-20 (tanpa balutan rasa cinta yang tentunya)
Saya berdoa semoga mBak menemukan jati diri yang sebenarnya dan ambil keputusan itu agar tak berulang.
Semoga berbagagia. Salam buat si Mas nya
10 September 2008 @ 22:52kamu hrs bs mmbuat kputusan di tengah pilihan yang sulit.
11 September 2008 @ 00:57try to discuss it,,
dan tanyakan pd suami anda apa sebenarnya yg dia inginkan,
menyuruh anda bkerja ttp msh menaruh rasa curiga,
how come????…
Allah swt, malalui Agama telah mengatur semuanya, termasuk kehidupan berumah tangga.
11 September 2008 @ 02:03Dalam Islam dianjurkan, disarankan malah diharuskan kalau istri itu lebih fokus mengurus rumah tangga, mengurus anak dan suami. Sedangkan sang suami yag harus bekerja mencari nafkah, baik diluar maupun dirumah. Aturan ini tentu sudah dikaji buruk baiknya.
Ternyata benar adanya. Banyak keluarga yg berantakan,tidak harmonis, gara2 sang istri lebih mementingkan karir atau pekerjaannya diluar dari pada tanggung jawb rumah tangganya.
Akibatnya banyak dan berbahaya, sperti sang anak yg kurang dapat kasih sayang dari mama atau orang tuanya, yg berakibat anak bisa jadi nakal atau mencari kasih sayang diluar . Sang suami yg merasa kurang dilayani,akibatnya mencari pelayanan dan perhatian diluar atau cemburu.Sekarang terserah Mabk utk mengambi l keputusan, apakah saya keluarga atau sayang kerjaan atau karier.
Saya cukup salut dengan cerita, mbak.
Rumah tangga yang normal, ada masalah dan bisa di diskusikan dengan yang baik. Istri saya juga bekerja dan banyak teman laki - laki juga, saya percaya sama istri saya. Istri saya pun ingin berhenti, saya dukung asal komitmen dengan keputusan tersebut karena akan lebih menantang hidupnya, karena gaji saya nggak lebih dari UMR buruh kalau tidak ada pekerjaan.
Kalau belum nikah sih nggak masalah, karena bebas. Kalau sudah nikah apalagi kalau mbak hamil, berarti ada tantang lagi. Itulah indahnya nikah :). Banyak tantangan.
Saya malah bekerja lepas dan mungkin lebih sengsara dari suami, mbak. Salam buat suami mbak, semoga lageng dan bisa diselesaikan dengan cara yang baik. Optimistis dan saling percaya!.
11 September 2008 @ 04:33wanita memang mahkluk tuhan yg paling hebat….fakta yg mbak crtkan menunjukan akan besarnya kekuatan cinta….skrg hanya perlu kesabaran sedikit untuk memperbaiki keadaan…yg menjadi pilihan adalah ubah diri mbak atau ubah suami…tqu
11 September 2008 @ 07:20saya 6 tahun bekerja dengan kondisi , telat pulang 5 menit = berantem dengan pacar 2 hari , dan setiap saya pulang dalam perjalanan saya harus ngebut di jalan sambil berharap ban mobil saya tidak bocor , kalo tidak alasan apappun ujung 2 nya ada lah tuduhan selingkuh yang saya terima, bukan pilihan antara karier dan rumah tangga yg mbak harus pilih tapi pilihan untuk berani mengatakan tidak itu yang harus mbak pilih, demi kebahagiaan karena cinta tidak pernah menyakiti.
11 September 2008 @ 07:51suruh aja suaminya nemenin lembur…
11 September 2008 @ 08:03Dear Mba, kok kasian amat, udah cape kerja masih juga harus takut dengan suami. Saran saya, tetap bekerja, dan yakinkan suami kalo anda tidak berselingkuh. Toh zaman sekarang banyak wanita bekerja dan rumah tangganya baik-baik saja.
Sely
11 September 2008 @ 09:01Pilih dua-duanyalah mbak, karena saya pikir mbak masih suka tiga-tiganya.
11 September 2008 @ 09:421. Karier (masih kerja kan?)
2. Rumah Tangga (sudah menjadi istrinya?)
3. Sifat pencemburu sang suami (masih belum cerai kan?)
Nah kalo boleh saran, tambah satu lagi biar jadi seneng empat-empatnya yaitu coba aja selingkuh sekalian, siapa tahu ketahuan belangnya bahwa suami yang pencemburu sebenarnya sudah selingkuh duluan atau malah sebenarnya suami mbak memang gak ada apa-apanya untuk dicinta. He he he gila gak?
mungkin suami cemburu karena kesuksesan mbak, dari mulai kuliah mbak yang bisa diselesaikan dengan baik, kerja ditempat yang bagus, kemudian membantu dia sampe sukses, dan bisa dengan mudah diterima kembali bekerja. Kalau suami sampai ngga melihat itu semua memang keterlaluan, ingin mbak kerja (biar dapat uang) tapi maunya selalu tepat waktu sampai rumah. Padalah kerja di kantor swasta ngga bisa seperti itu. Yang sabar aja mbak….dan banyak berdoa…..saya sangat salut atas kesetiaan mbak dan kepatuhan mbak terhadap suami.
11 September 2008 @ 09:50mbak yg baek………sebenarnya istri itu bukan ujung tonggak rumah tangga,suamilah yg lbh berkewajiban jd ujung tonggak RT.sy jg seorang istri,dan seandainya sy bs krja sprt mbak,sy senang,suami psti jg senang,tp jg hrs pengertian dgn posisi kt.sy jg prnh sprti itu,dan sy yg mengalah,cr t4 kerja laen,ttntu hal itu kt bicrakn dl dgn suami.bicara dgn hati,dan kash sayang.gmn ntar kl dah ada momongan…kbthn tmbh bnyk.saling pengertian dung.ok…….good luck.
11 September 2008 @ 09:54karier sama rumah tangga itu sama-sama penting
11 September 2008 @ 10:19hanya pengertian dan hilangkan rasa cemburu suami tambahkan kepercayaan dan pengertian semoga menjadi nyaman bekerja dan selalu bahagia …
saya sangat prihatin dengan cerita mba.
Saran saya sebaiknya dibicarakan baik-baik, jelasin semuanya, yakinkan dia kalau mba sangat mencintai dia dan tidak akan pernah selingkuh seperti yang dia khawatirkan.
apabila suami masih tidak mau mengerti juga, mba harus melibatkan pihak ketiga yang dia percaya, misalnya orang tuanya atau orang yang dia jadikan panutan atau seorang pemuka agama/psikolog. Mba harus sering berkonsultasi dengan banyak orang.
11 September 2008 @ 10:24do u still want to be with him ???
jika iya … maka … ke-2 nya kudu extra kerja keras menjambangi perbedaan yang ada .. . Si suami di beri pengertian keadaan kerja si istri (pasti sulit dengan sifatnya yg pencemburu), dan istri harus bersabar dengan usaha suami yang berusaha untuk mengerti kerjaan istri.
kl masalah rejeki mah … xan mang paten !!!
semoga semua menjadi baik ya mba
amiinnn …
-hf-
11 September 2008 @ 10:55aduuuuhh.. miris bgt bacanya..
salut bgt sm mba..
in my opinion, suami mba cemburu krn ngerasa mba itu ibaratnya levelnya diatas suami mba, dr segi pendidikan, kemampuan cari uang (kerja), tampang juga mungkin (hehehehe)
dan mikir mba bisa aja ke lain hati krn lingkungan kantor rentan dgn hal2 kayak gitu..
hhmmm..
saran aku sih.. gimana kalo mbak lebih mengenalkan dunia kerja mba sm suaminya?
kenalin kolega2 dan atasan2 mba.. ngakrabin suami sm mereka smua.. mungkin kalo dah kenal bgt bisa berkurang rasa cemburunya.. krn mba lg bersama siapa2nya juga dia kenal..
tp kalo masih cemburuan juga..
yah aku bilang sih capek mba.. udah bertahun2 kok masih ga mau percaya sama mba..
klo memang msh bgitu, yakinkan hati mba kalo mba berhak dpt pria yg lebiiiiiiiiiiih segala2nya dr dia plus bisa mensupport & percaya sm mba.. pria yg intregritasnya lebih tinggi dr suami mba..:) mba wanita hebat dr yg saya baca..
u deserve more than him..
11 September 2008 @ 11:04cinta sih cinta mbak
tapi seperti itu apa realistis???
harusnya suaminya mengerti dong…
sekali2 perlu diajak seharian ke kantor mbak deh, liat mbak kerjanya gimana…
biar dia tahu load kerja mbak….
dia kan ga ada pengalaman kerja dikantor…
mungkin itu yg menyebabkan dia ga ngerti….
biar ga marah2 lagi…
semoga tetap tabah dan sabar…
cinta memang ……..
11 September 2008 @ 11:05Dear all,…
Hari ini saya mempunyai semangat baru. Sebuah kekuatan baru yang membuat saya lebih tegar menjalani hidup saya.
semua berkat saran2 dan masukan dari teman-teman semua…
terima kasih.
tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas perhatian teman2 semua…
saya hanya bisa berdoa, semoga Tuhan memberikan kemudahan dan sinar terang bagi kita semua untuk sll tersenyum menghadapi hidup..
Thanks for all..
God bless u all…
11 September 2008 @ 11:12Sorry…
Gw bingung sama lo, mencintai orang yang gak mencintai lo…
Knp gw bilang begitu? Klo dia mencintai lo, seharusnya dia gak akan mukul lo cuma karena lo lembur…
Pilihan lo cuma tiga:
1. Tetep kerja dan tetep tertekan.
2. Berhenti kerja, tapi lo bakal diomelin (mungkin dipukul) suami.
3. Maaf ini ekstrim, you leave him (cerai)…
sementara ini dulu, lg gak bisa mikir…
11 September 2008 @ 11:51Eeh, kasusnya sama dengan temenku yang juga dari jateng. Endingnya mereka cerai, dan masing-masing jadinya sucses di bisnis dan karier.
11 September 2008 @ 12:26Andai gak ada wanita kerja diluar, mungkin tidak ada pria pengangguran, shg tidak ada keluarga yang tidak bisa makan. (HEBATNYA AJARAN ISLAM)
11 September 2008 @ 13:30Beri pengertian suami, kalau gak bisa, ambil tindakan halal yang tidak disukai Allah SWT,…. GUGAT CERAI.
(udah tau kelakuan nya dari dulu begitu, masih mau dinikahin, ya inilah ongkosnya. RIDHO ORANG TUA NOMOR SATU MBAK). Smg mslh selesai dg baik, suami tobat n pengertian, dpt ridho ortu n anda berhenti kerja diluar. (amien)
Sahabatku,
Marilah introspeksi atas diri masing-masing. Saya kira, apabila dalam berumah tangga kita selalu mendasarkan segala sesuatu kepada ajaran agama, maka segala permasalahan yang timbul niscaya akan mudah diselesaikan, karena tuntunannya jelas yaitu aturan Allah SWT yang merupakan aturan terbaik bagi manusia di muka bumi ini.
Marilah introspeksi.
Salam sejahtera buat Anda dan Suami
11 September 2008 @ 13:52ya nama nya juga keluarga ya gitu dech
11 September 2008 @ 14:45karir dan keluarga sama penting nya.soal cemburu wajar adanya.mba harus menyakinkan sang suami seyakin-yakinya.dgn cara memberikan perhatian yg lebih dan simpatik pada pasangan mungkin aga mengurangi sifat kecemburuan pasangan mba.ceritakan dgn perlahan tentang pekerjan mba yg menurut mba sangat sulit dikerjakan/diselesaikan dan sangat sulit menurut pandangan pasangan mba.supaya dia paham betul arti bekerja dan demi kelangsungan perekonomian keluarga dan sekaligus supaya membuat pasangan mba iba.jangan sekali2 menceritakan teman pria anda kepada pasangan anda karna akan memicu kemarahan dan rasa cemburunya akan sangat meningkat.,,,,,,,,,,,,,
salam ku
dani
11 September 2008 @ 16:48Alhamdulillah akhirnya mBak punya sikap, meski ini awal dari beberapa awal sikap yang pernah mBak ambil.
Semoga berbahagia. NTL (Never …. late).
Life is full defiance but life is beautiful, make it so easy
11 September 2008 @ 18:14sesama wanita aku ikut prihatin. meski suamiku pengangguran, dia nda ringan tangan. aku kadang telat pulang, asal alasan jelas, its ok. aku sdh capek, kerja 15 tahun. tp semua aku nikmati sj. aku coba menerima dengan lkhlas. sebagai istri berbakti pada suaimi adalah ibadah. insya alloh ada hikmahnya. sabar ya mbak…
11 September 2008 @ 20:43